Minggu, 17 Januari 2010
A. Pengertian dan Fungsi Tugas-Tugas Perkembangan
· Sebagian besar dari perkembangan aspek-aspek kepribadian terjadi melalui proses belajar, baik proses belajar yang sederhana dan mudah maupun yang kompleks dan sukar. Suatu proses perkembangan yang bersifat alami, yaitu yang berupa kematangan, berintegrasi dengan proses penyesuaian diri dengan tuntutan dan tantangan dari luar, tetapi keduanya masih dipengaruhi oleh kesediaan, kemauan dan aspirasi individu untuk berkembang. Ketiganya mempengaruhi penyelesaian tugas-tugas yang dihadapi individu dalam perkembangannya. Robert J. Havighurst (1961) menyebutnya sebagai tugas-tugas perkembangan. Tugas perkembangan adalah suatu tugas yang muncul dalam suatu periode tertentu dalam kehidupan individu.
· Menurut Havighurst, tugas-tugas perkembangan tersebut harus dikuasai dan diselesaikan. sebab apabila dapat dikuasai dan diselesaikan dengan baik akan memberikan kebahagian dan keberhasilan dalam perkembangan selanjutnya. Apabila tidak bisa dikuasai dan diselesaikan, maka akan menimbulkan ketidakbahagiaan, penolakan dari luar dan kesukaran dalam perkembangan selanjutnya. Penyelesaian tugas-tugas perkembangan dalam suatu periode atau tahap tertentu akan mempengaruhi penyelesaian tugas-tugas pada tahap berikutnya. Dengan demikian tugas-tugas perkembangan berfungsi untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada setiap fase perkembangannya agar memberikan kebahagiaan dan keberhasilan dalam kehidupannya. Kehidupan terdiri atas serangkaian tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan oleh individu.
B. Jenis-jenis Tugas-tugas Perkembangan pada setiap Fase Perkembangan
· Havighurst memberikan rincian tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan individu pada setiap tahap perkembangan. Menurut dia ada empat tahap besar perkembangan individu, yaitu: masa bayi dan kanak-kanak, masa anak, masa remaja, masa dewasa yang terbagi lagi atas dewasa muda, dewasa, dan usia lanjut.
Tugas-tugas perkembangan masa bayi dan kanak-kanak
· Beberapa bulan pertama, mulut dan selanjutnya mata, telinga dan tangan berperan sebagai alat penghubung dengan dunia luar. Bayi mengadakan hubungan dan belajar tentang dunia sekitar. Melalui interaksi dengan menggunakan alat-alat tersebut dengan lingkungannya, bayi memperoleh kesan dan memahami lingkungannya.
· Pada tahun kedua, bayi mulai belajar berdiri sendiri, di samping ketergantungannya yang masih sangat besar terhadap orang tuanya. Ia berusaha memecahkan beberapa masalah yang dihadapinya. Hal ini berpengaruh besar terhadap perkembangan pribadinya.
· Pada tahun berikutnya anak mulai dapat mengontrol cara-cara buang air, dan ia juga mulai mengadakan eksplorasi terhadap lingkungannya.
· Pada tahun keempat dan kelima anak sudah mencapai kesempurnaan dalam melakukan gerakan seperti berjalan, berlari, meloncat dan sebagainya. Gerakan-gerakan ini sangat berperan dalam perkembangan selanjutnya.
· Pada akhir masa kanak-kanak, anak bukan saja mencapai kesempurnaan dalam gerakan-gerakan fisik, tetapi juga telah menguasai sejumlah kemampuan intelektual, sosial bahkan moral.
Beberapa tugas perkembangan yang muncul dan harus dikuasai oleh anak pada masa ini adalah:
a. Belajar berjalan. Pada usia sekitar satu tahun, tulang dan otot-otot bayi telah cukup kuat untuk melakukan gerakan berjalan. Berjalan merupakan puncak perkembangan gerak pada masa bayi, tetapi awal gerakan atau kegiatan sebagai manusia dewasa.
b. Belajar mengambil makanan. Makanan merupakan kebutuhan biologis utama pada manusia. Dengan diawali oleh kemampuan mengambil dan memakan sendiri makanan yang dibutuhkannya, bayi telah memulai usaha memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya.
c. Belajar berbicara. Bicara merupakan alat berpikir dan berkomunikasi dengan orang lain. Melalui penguasaan akan tugas ini, anak akan berkembang pula kecakapan sosial dan intelektualnya.
d. Belajar mengontrol cara-cara buang air. Pengontrolan cara buang air bukan hanya berfungsi menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi indikator utama kemampuan berdiri sendiri, pengendalian diri dan sopan santun.
e. Belajar mengetahui jenis kelamin. Anak harus mengenal jenis jenis kelamin, baik ciri-ciri biologisnya maupun sosial-kulturalnya serta peranan-peranannya. Ini penting bagi pembentukan peranan dirinya serta penentuan bentuk perlakuan dan interaksi baik dengan jenis kelamin yang sama maupun yang berbeda dengan dirinya.
f. Menguasai stabilitas jasmaniah. Pada masa bayi kondisi fisiknya sangat labil dan peka, mudah sekali berubah dan kena pengaruh dari luar. Pada akhir masa kanak-kanak ia harus memiliki jasmani yang stabil, kuat, sehat, seimbang agar mampu melakukan tuntutan-tuntutan perkembangan selanjutnya.
g. Memiliki konsep sosial dan fisik walaupun masih sederhana. Anak hidup dalam lingkungan fisik dan sosial tertentu. Agar dapat hidup secara wajar, anak dituntut memiliki konsep-konsep sosial dan fisik yang sesuai dengan kemampuannya. Anak harus sudah mengetahui apa itu binatang, manusia, rumah, baik, jahat dll.
h. Belajar hubungan sosial yang baik dengan orang tua, saudara serta orang-orang dekat lainnya. Anak dituntut dapat menggunakan bahasa yang tepat dan baik, bersopan santun.
i. Belajar membedakan mana yang baik dan tidak baik serta pengembangan hati nurani. Anak dituntut telah mengetahui mana perbuatan yang baik dan mana yang tidak baik, lebih jauh ia dituntut untuk melakukan perbuatan yang baik dan menghindarkan perbuatan yang tidak baik.
Tugas-tugas perkembangan masa anak
· Pada masa anak yang berusia antara 6 - 12 tahun, dunianya lebih banyak di sekolah dan lingkungan sekitar. Sejalan dengan hal itu ada tiga dorongan besar yang dialami anak pada masa ini: (1) dorongan untuk ke luar dari rumah dan masuk ke dalam kelompok sebaya (peer group), (2) dorongan Fisik untuk melakukan berbagai bentuk permainan dan kegiatan yang menuntut keterampilan/gerakan fisik, dan (3) dorongan mental untuk masuk ke dunia konsep, pemikiran, interaksi dan simbol-simbol orang dewasa.
Beberapa tugas perkembangan yang dituntut pada masa ini adalah:
a. Belajar keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan. Anak, masa ini senang sekali bermain, untuk itu diperlukan keterampilan-keterampilan fisik, seperti menangkap, melempar, menendang bola, berenang, mengendarai sepeda dll.
b. Pengembangan sikap yang menyeluruh terhadap diri sendiri sebagai individu yang sedang berkembang. Anak dituntut mengenal dan memelihara kepentingan dan kesejahteraan dirinya. Dapat memelihara kesehatan dan keselamatan dirinya, menyayangi dirinya, senang berolah raga dan berekreasi untuk menjaga kesehatan dirinya, memiliki sikap yang tepat terhadap jenis kelamin lain.
c. Belajar berkawan dengan teman sebaya. Anak dituntut untuk mampu bergaul, bekerjasama dan membina hubungan baik dengan teman sebaya, saling menolong dan membentuk kepribadian sosial.
d. Belajar melakukan peranan sosial sebagai laki-laki atau wanita. Anak dituntut melakukan peranan-peranan sosial yang diharapkan masyarakat sesuai dengan jenis kelaminnya.
e. Belajar menguasai keterampilan-keterampilan intelektual dasar, yaitu membaca, menulis dan berhitung. Dituntut pada awal masa anak, untuk melaksanakan tugas-tugasnya di sekolah dan perkembangan belajarnya lebih lanjut.
f. Pengembangan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Baik yang berkenaan dengan pergaulan, pekerjaan, kehidupan keagamaan dll. agar dapat menyesuaikan diri dan berperilaku sesuai dengan tuntutan dari lingkungannya anak
g. Pengembangan moral, nilai dan hati nurani. Dituntut telah mampu menghargai perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan moral, dapat melakukan kontrol terhadap perilakunya sesuai dengan moral. Diharapkan juga mulai tumbuh pemikiran akan skala nilai dan pertimbangan-pertimbangan yang didasarkan atas kata hati.
h. Memiliki kemerdekaan pribadi. Anak mampu memilih, merencanakan, dan melakukan pekerjaan atau kegiatan tanpa tergantung pada orang tuanya atau orang dewasa lainnya.
i. Pengembangan sikap terhadap lembaga dan kelompok sosial. Anak diharapkan telah memiliki sikap yang tepat terhadap lembaga-lembaga dan unit atau kelompok-kelompok sosial yang ada dalam masyarakat.
Tugas-tugas perkembangan masa remaja
· Masa remaja atau adolesen merupakan masa peralihan antara, masa anak dengan dewasa. Meskipun perkembangan aspek-aspek kepribadian Anak telah diawali pada masa-masa sebelumnya, tetapi puncaknya boleh dikatakan terjadi pada masa ini, sebab setelah melewati masa ini, remaja telah berubah menjadi seorang dewasa. Karena peranannya sebagai masa transisi antara masa anak dan dewasa, maka pada masa ini terjadi berbagai gejolak atau kemelut. Gejolak atau kemelut ini terutama berkenaan dengan segi afektif, sosial, intelektual juga moral. Hal ini terjadi terutama karena adanya perubahan-perubahan baik fisik maupun psikis yang sangat cepat yang mengganggu kestabilan kepribadian anak.
Beberapa tugas perkembangan yang harus diselesaikan para remaja pada masa ini adalah:
a. Mampu menjalin hubungan yang lebih matang dengan sebaya dan jenis kelamin lain. Remaja hendaknya mampu melihat gadis sebagai wanita dan pemuda sebagai laki-laki, menjadi seorang dewasa di antara orang dewasa lainnya. Belajar bekerja dengan orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, bisa melepaskan perasaan-perasaan pribadi dan mampu memimpin tanpa mendominasi.
b. Mampu melakukan peran-peran sosial sebagai laki-laki dan wanita. Mampu menghargai, menerima dan melekukan peranperan sosial sebagai laki-laki dan wanita dewasa.
c. Menerima kondisi jasmaninya dan dapat menggunakannya secara efektif. Remaja dituntut untuk menyenangi dan menerima dengan wajar kondisi badannya, dapat menghargai atau menghormati kondisi badan orang lain, dapat memelihara dan menjaga kondisi badannya.
d. Memiliki keberdirisendirian emoeional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Remaja diharapkan telah lepas dari ketergantungan sebagai kanak-kanak dari orang tuanya, dapat menyayangi orang tua tanpa, menghargai orang tua atau orang dewasa lainnya tanpa tergantung pada mereka.
e. Memiliki perasaan mampu berdiri sendiri dalam bidang ekonomi. Terutama pada anal, laki-laki, kemudian berangsurangsur pula tumbuh pada anak wanita, perasaan mampu untuk mencari natkah sendiri.
f. Mampu memilih dan mempersiapkan diri untuk sesuatu pekerjaan. Anak telah mampu membuat perencanaan karir, memilih pekerjaan yang cocok dan mampu in ke jakan, membuat persiapan-persiapan yang sesuai.
g. Belajar mempersiapkan diri untuk perkawinan dan hidup berkeluarga. Memiliki sikap yang positif terhadap hidup berkeluarga dan punya anak. Untuk anak wanita telah memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memelihara anak dan rumah tangga.
h. Mengembangkan konsep-konsep dan keterampilan intelektual untuk hidup bermasyarakat. Mengembangkan konsep-konsep tentang hukum, pemerintahan, ekonomi, politik, institusi sosial yang cocok bagi kehidupan modern, mengembangkan ketrampilan berpikir dan berbahasa untuk dapat memecahkan problemaproblema masyarakat modern.
i. Memiliki perilaku sosial seperti yang diharapkan masyarakat. Dapat berpartisipasi dengan rasa tanggung jawab bagi kemajuan clan kesejahtcraan masyarakat.
j. Memiliki seperangkat nilai yang menjadi pedoman bagi perbuatannya. Tclah memiliki seperangkat nilai yang bisa diterapkan dalam kehidupan, ada kemauan dan usaha untuk merealisasikaanya. Mampu menciptakan kehidupan yang serasi dengan orang lain.
Tugas-tugas perkembangan masa dewasa muda
· Pada akhir masa remaja hampir seluruh aspck kepribadian individu telah berkembang, dan siap untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai orang dewasa. Havighurst membagi kehidupaa mass dewasa ini atas tiga fase, yaitu: dewasa muda, dewasa, dan usia lanjut.
Tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan individu adalah:
a. Memilih pasangan hidup. Masa dewasa muda merupakan masa awal membina karir dan keluarga. Kehidupan berkeluarga diawali dengan memilih pasangan hidup sebagai suami dan istri. Pasangan suami–istri didasari oleh rasa kasih sayang juga pertimbangan yang matang, tentang kesesuaian sifat, kesamaan tujuan hidup, serta berbagai kemampuan dan kesiapan melaksanakan tugas-tugas keluarga.
b. Belajar hidup bersama pasangan hidup. Hidup bersama antara dua orang yang memiliki latar belakang kehidupan, sifat dan mungkin minat dan kebiasaan yang berbeda. Meskipun demikian mereka memiliki kebutuhan yang sama, yaitu kebutuhan untuk hidup bersama.
c. Memulai hidup berkeluarga. Keluarga merupakan masyarakat kecil. Hampir seluruh aspek kehidupan kemasyarakatan ada dalam keluarga. Suami dan istri dan dengan anak-anaknya, harus mengembangkan dan mengadakan penataan serta pengelolaan tentang aspek-aspek tersebut, mengadakan pembagian tugas, mengembangkan mekanisme kerja, menciptakan iklim kehidupan dll. sehingga semua kebutuhan dapat terpenuhi dan semua urusan keluarga dapat diselesaikan dengan baik.
d. Memelihara dan mendidik anak. Setiap keluarga mendambakan kehadiran anak, sebagai pemersatu suami-istri, sebagai penerus generasi. Memelihara pertumbuhan fisik anak relatif lebih mudah dibandingkan dengan mendidik perkembangan kerohaniannya.
e. Mengelola rumah tangga. Rumah tangga ibarat suatu perusahaan atau lembaga, yang memiliki banyak bagian dan kaitan, baik antar bagian-bagiannya maupun antara bagian tersebut dengan hal-hal di luar rumah. Semua harus direncanakan dan dikelola dengan baik, sehingga dapat membentuk satu kesatuan yang harmonis dan berjalan dengan lancar.
f. Memulai kegiatan pekerjaan. Pekerjaan bukan hanya berfungsi untuk mendapatkan nafkah, tetapi juga merupakan bagian dari karir dan sekaligus identitas dan prestise dari keluarga. Walaupun seseorang telah mengikuti pendidikan untuk sesuatu pekerjaan, tetapi dalam praktek masih harus banyak belajar dan mengembangkan diri.
g. Bertanggung jawab sebagai warga masyarakat, warga negara. Seorang dewasa muda harus mampu membina hubungan sosial dengan sesama warga masyarakat. Dituntut mematuhi semua peraturan, ketentuan dan nilai yang ada dalam masyarakat, juga dituntut turut memelihara dan mengawasinya. Seorang dewasa muda juga dituntut untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.
h. Menemukan persahabatan dalam kelompok sosial. Di masyarakat terdapat berbagai kelompok sosial, seperti kelompok etnis, agama, budaya, profesi, hobi dll. Seorang dewasa dituntut untuk dapat hidup dalam berbagai kelompok sosial tersebut dengan harmonis.
Tugas-tugas perkembangan masa dewasa dan usia lanjut
· Tugas-tugas pcrkembangan pada masa dewasa merupakan pengembangan lebih lanjut dan pematangan dari tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa muda. Pada akhir masa dewasa realisasi dari semua tugas-tugas perkembangan tersebut mencapai puncaknya, dan masing-masing memperlihatkan bentuk hasilnya yang khas. Pada masa usia lanjut, apa yang dicapai pada masa usia dewasa mungkin tetap dipertahankan, tetapi beberapa hal lain mungkin mulai menurun bahkan menghilang. Tugas baru yang masih berkembang adalah kesiapan menghadapi status pensiun, penurunan kekuasaan, penurunan kemampuan dan kekuatan fisik serta menghadapi kematian.
Secara lebih rinci tugas-tugas perkembangan pada masa usia dewasa adalah:
a. Memiliki tanggung jawab sosial dan kenegaraan sebagai orang dewasa.
b. Mengembangkan dan memelihara standar kehidupan ekonomi.
c. Membimbing anak dan remaja agar menjadi orang dewasa yang bertanggungjawab dan berbahagia.
d. Mengembangkan kegiatan-kegiatan waktu senggang sebagai orang dewasa, hubungan dengan pasangan-pasaagan keluarga lain sebagai pribadi.
e. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisik sebagai orang setengah baya.
f. Menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai orang tua yang bertambah tua.
Tugas-tugas perkembangan pada masa usia lanjut, adalah:
a. Menyesuaikan diri dengan kondisi fisik dan kesehatan yang semakin menurun.
b. Menyesuaikan diri dengan situasi pensiun dan penghasilan yang semakin berkurang.
c. Menyesuaikan diri dengan kematian dari pasangan hidup.
d. Membina hubungan dengan sesama usia lanjut.
e. Memenuhi kewajiban-kewajiban sosial dan kenegaraan.
f. Memelihara kondisi dan kesehatan.
g. Kesiapan menghadapi kematian.
C. Analisis Permasalahan dalam mencapai tugas Perkembangan Remaja dan Peran Sekolah
· Menurut Hurlock, sekolah merupakan penentu bagi perkembangan kepribadian anak (peserta didik), baik dalam cara berpikir, bersikap, maupun bertingkahlaku. Sekolah berperan sebagai substitusi keluarga dan guru substitusi orangtua.
· Menurut Havighurs, sekolah mempunyai peranan daalam membantu para peserta didik mencapai tugas perkembangannya. Sekolah seyogyanya berupaya menciptakan iklim yang kondusif atau kondisi yang dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan remaja itu menyangkut aspek-aspek kematangan dalam berinteraksi sosial, kematangan personal, kematangan dalam mencapai filsafat hidup, dan kematangan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.
· Dengan demikian analisis permasalahan yang mungkin terjadi pada masa remaja dalam mencapai tugas perkembangannya serta peranan kita sebagai pendidik di sekolah menyangkut tiga hal penting, yakni:
1. Pencapaian tugas perkembangan melalui kelompok teman sebaya
2. Mencapai perkembangan kemandirian pribadi
3. Pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME
Pencapaian tugas perkembangan melalui kelompok teman sebaya
· Pengalaman siswa dalam kelompok sebaya sangat bermanfaat untuk mencapai sikap independensi dan kematangan hubungan interpersonal secara matang. Dengan kata lain remaja dapat menuntaskan perkembangan: (1) mencapai hubungan baru yang matang dengan teman sebaya, baik pria maupun wanita dan (2) mencapai peran social sebagai pria dan wanita.
· Upaya sekolah dalam mencapai tugas di atas:
1. Memberikan pengajaran dan bimbingan tentang ketrampilan-ketrampilan social
2. Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan kelompok (ekstrakurikuler atau OSIS)
3. Mengajar atau membimbing siswa tentang hidup demokratis atau berteman secara sehat
4. Bersama siswa mendiskusikan masalah peran social pria dan wanita dalam masyarakat.
5. Mendorong siswa membaca literature yang memuat peranan pria dan wanita
6. Menugaskan siswa untuk mengamati kehidupan social menyangkut keterlibatan pria dan wanita dalam bidang pendidikan, pekerjaan, kehidupan berkeluarga atau ketrampilan masyarakat lainnya sebagai pembahasan dalam diskusi
Mencapai perkembangan kemandirian pribadi
· Remaja merupakan periode perkembangan kea rah otonomi (kemandirian) atau independensi pribadi. Untuk mencapai aspek perkembangan ini remaja harus menyelesaikan tugas-tugas perkembangan (1) menerima keadaan fisiknya dan memanfaatkannya secara efektif, (2) mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya, (3) mencapai jaminan kemandirian ekonom, (4) memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, (5) mengembangkan konsep dan ketrampilan intelektual yang perlu bagi kompetensi sebagai warganegara.
· Upaya sekolah dalam mencapai tugas di atas:
1. Melalui pelajaran biologi, kesehatan dan olahraga, atau layanan bimbingan, guru mata pelajaran atau guru pembimbing dapat memberikan penjelasan tentang pertumbuhan dan perubahan fisik remaja, terutama aspek keragamannya.
2. Membantu siswa mengembangkan sikap apresiatifnya terhadap postur tubuhnya, atau kondisi dirinya (kekuatan dan kelemahannya).
3. Menyediakan fasilitasi bagi kegiatan siswa dalam bidang olah raga, kesenian, atau keterampilan-keterampilan lainnya.
4. Menciptakan suasana sekolah yang kondusif bagi perkembangan emosional siswa secara matang (memelihara hubungan antarpersonil, terutama antara guru-siswa, yang bersifat hangat, penuh pengertian dan penerimaan).
5. Memberikan informasi kepada siswa tentang cara menghadapi frustasi atau stres yang sehat.
6. Memberikan kesempatan kepada siswa (pada saat proses belajar-mengajar berlangsung) untuk mengajukan pertanyaan atau pendapatnya.
7. Memberikan bimbingan kepada para siswa tentang cara-cara memecahkan masalah (problem solving) atau mengambil keputusan.
8. Membantu siswa mengembangkan rasa percaya dirinya.
9. Mengembangkan sikap apresiatif siswa terhadap sekolah, bahwa sekolah di samping tempat menuntut ilmu juga sebagai investasi masa depannya.
10. Mengembangkan sikap dan kemampuan siswa untuk berwiraswasta.
11. Melalui proses belajar-mengajar atau bimbingan khusus, guru mengembangkan sikap, semangat, atau kebiasaan positif siswa untuk belajar.
12. Mengembangkan sikap positif siswa terhadap dunia kerja.
13. Memberikan informasi tentang dunia kerja (persyaratan, jenis, lingkungan fisik, suasana sosiopsikologis, tempat, jaminan kesejahteraan, dan prospek kerja).
14. Membantu siswa tentang cara memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
15. Mendiskusikan atau curah pendapat (brain storming) tentang berbagai masalah atau isu-isu kenakalan remaja, baik menyangkut jenis (tawuran, minuman keras, AIDS, pergaulan bebas dan ecstasy), faktor penyebab, dampak dan cara menanggulanginya.
Pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME
· Tugas perkembangan ini berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan, yang mempunyai tugas suci untuk beribadah kepadaNya. Ibadah ini misinya adalah untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan atau kenyamanan hidup, baik di dunia maupun di akhiI rat. Perkembangan keimanan dan ketakwaan ini merupakan tugas perkembangan yang penanamannya dimulai sejak usia dini. Pada usia remaJa, nilai-nilai keimanan dan ketakwaan harus sudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Pencapaian tugas perkembangan ini, pada setiap remaja tampaknya bersifat heterogen. Heteroginitas perkembangan ini dipengaruhi oleh faktor pengalaman keagamaan masing-masing, terutama di lingkungan keluarganya.
· Upaya sekolah dalam mencapai tugas di atas:
1. Pimpinan (kepala sekolah dan para wakilnya), guru-guru, dan personel sekolah lainnya harus sama-sama mempunyai kepedulian terhadap program pendidikan agama atau penanaman nilai-nilai agama di sekolah, baik melalui (a) proses belajar mengajar di kelas; (b) bimbingan (pemaknaan hikmah hidup beragama/beribadah, pemberian dorongan dan contoh/tauladan baik dalam bertutur kata, berperilaku, berpakaian, maupun melaksanakan ibadah); dan (c) pembiasaan dalam mengamalkan nilai-nilai agama.
2. Guru agama seyogianya memiliki kepribadian yang mantap (akhlakul karimah), pemahaman dan keterampilan profesional, serta kemampuan dalam mengemas materi pembelajaran, sehingga mata pelajaran agama menjadi menarik dan bermakna bagi anak.
3. Guru-guru menyisipkan nilai-nilai agama ke dalam mata pelajaran yang diajarkannya, sehingga siswa memiliki apresiasi yang positif terhadap nilai-nilai agama.
4. Sekolah menyediakan sarana ibadah (mesjid) sebagai laboratorium rohaniah yang cukup memadai, serta memfungsikannya secara maksimal.
5. Menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler kerohaniahan, pesantren kilat, ceramah-ceramah keagamaan, atau diskusi keagamaan secara rutin.
6. Bekerja sama dengan orangtua siswa dalam membimbing keimanan dan ketakwaan siswa.
Daftar Bacaan
H. Syamsu Yusuf (2007), Psikologi Perkembangan Anak Remaja, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Mohammad Ali dan Mohammad Asrori (2006), Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Bumi Aksara.
Nana Syaodih S. (2005), Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.








Posting Komentar