Welcome

Selamat datang semoga Anda mendapatkan apa yang Anda cari. Media Pelajar

Translator

Soal Latihan

Kelas VII:
Norma-norma yang berlaku dalam kehidupan, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi Pertama
Perlindungan dan Penegakkan hak Asasi Manusia
Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat
Kelas VIII: Kelas IX:
Contoh soal latihan (sekedar contoh)

Lembar Jawaban

ANALISIS ASPEK PERKEMBANGAN REMAJA (PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN MOTORIK)

Minggu, 17 Januari 2010

A. Perkembangan Intelek (Kognitif)

· Istilah intelek berasal dari bahasa Inggris intellect yang berarti: (a) proses kognitif, proses berpikir, daya menghubungkan, kemampuan menilai, dan kemampuan mempertimbangkan; (b) kemampuan mental atau inteligensi.

· Jean Piaget mendefinisikan intelect ialah akal budi berdasarkan aspek-aspek kognitifnya, khususnya proses-proses berpikir yang lebih tinggi. Sedangkan intelligence atau inteligensi menurut Piaget diartikan sama dengan kecerdasan, yaitu seluruh kemampuan berpikir dan bertindak secara adaptif termasuk kemampuan mental yang kompleks, seperti berpikir, mempertimbangkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan menyelesaikan persoalan.

· Jean Piaget membagi perkembangan intelek/kognitif menjadi empat tahapan sebagai berikut:

a. Tahap sensori-motoris (0-2 tahun). Pada tahap ini anak berada dalam suatu masa pertumbuhan yang ditandai oleh kecenderungan-kecenderungan sensori-motoris yang sangat jelas. Segala perbuatan merupakan perwujudan dari proses pematangan aspek sensori-motoris tersebut.

b. Tahap praoperasional (2-7 tahun). Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif. Artinya, semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tetapi oleh unsur perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang bermakna, dan lingkungan sekitarnya.

c. Tahap operasional konkret (7-I1 tahun). Pada tahap ini anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret dan sudah mulai berkembang rasa ingin tahunya. Interaksinya dengan lingkungan, termasuk dengan orang tuanya, sudah semakin berkembang dengan baik karena egosentris­nya sudah semakin berkurang. Anak sudah dapat mengamati, menimbang, mengevaluasi, dan menjelaskan pikiran orang lain dengan cara yang kurang egosentris dan lebih objektif.

d. Tahap operasional formal (11 tahun ke atas). Pada tahap ini anak telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari berpikir logis, mampu berpikir abstrak, dan memecahkan persoalan yang bersifat hipotetis.

· Karakteristik dalam setiap tahapan perkembangan intelek adalah sebagai berikut:

a. Karakteristik Tahap Sensori-Motoris

Tahap sensori-motoris ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut: (a) Segala tindakannya masih bersifat naluriah. (b) Aktivitas pengalaman didasarkan terutama pada pengalaman indra. (c) Individu baru mampu melihat dan meresapi pengalaman, tetapi belum mampu untuk mengategorikan pengalaman. (d) Individu mulai belajar menangani objek-objek konkret melalui skema-skema sensori-motorisnya.

b. Karakteristik Tahap Praoperasional

Tahap praoperasional ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut: (a) Individu telah mengombinasikan dan mentransformasikan berbagai informasi. (b) Individu telah mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyatakan ide-­ide. (c) Individu telah mengerti adanya hubungan sebab akibat dalam suatu peristiwa konkret, meskipun logika hubungan sebab akibat belum tepat. (d) Cara berpikir individu bersifat egosentris ditandai oleh tingkah laku: berpikir imajinatif, berbahasa egosentris, memilikiakuyang tinggi, menampakkan dorongan ingin tahu yang tinggi, dan perkembangan bahasa mulai pesat.

c. Karakteristik Tahap Operasional Konkret

Tahap operasional konkret ditandai dengan karakteristik menonjol bahwa segala sesuatu dipahami sebagaimana yang tampak saja atau sebagaimana kenyataan yang mereka alami. Jadi, cara berpikir individu belum menangkap yang abstrak meskipun cara berpikirnya sudah tampak sistematis dan logis. Dalam memahami konsep, individu sangat terikat kepada proses mengalami sendiri. Artinya, mudah memahami konsep kalau pengertian konsep itu dapat diamati atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan konsep tersebut.

d. Karakteristik Tahap Operasional Formal

Tahap operasional formal ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut: (a) Individu dapat mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi; (b) Individu mulai mampu berpikir logis dengan objek-objek yang abstrak; (c) Individu mulai mampu memecahkan persoalan-persoalan yang bersifa hipotetis; (d) Individu bahkan mulai mampu membuat perkiraan (forecasting) di masa depan; (e) Individu mulai mampu untuk mengintrospeksi diri sendiri sehingga kesadaran diri sendiri tercapai; (f) Individu mulai mampu membayangkan peranan-peranan yang akan diperankan sebagai orang dewasa; dan (g) Individu mulai mampu untuk menyadari diri mempertahankan kepentingan masyarakat di lingkungannya dan seseorang dalam masyarakat tersebut.

· Hubungan intelek dengan tingkah laku adalah bahwa inteligensi merupakan pernyataan dari tingkah laku adaptif yang terarah kepada kontak dengan lingkungan dan kepada penyusunan pemikiran (interactionism theory).

· Proses interaksi individu sesuai dengan perkembangan kognitifnya dilakukan melalui asimilasi dan akomodasi. Dalam asimilasi, proses yang terjadi adalah menyesuaikan pengalaman-pengalaman baru yang diperolehnya dengan struktur skema yang ada dalam diri individu. Akomodasi merupakan proses penyesuaian skema dalam diri individu dengan fakta-fakta baru yang diperoleh melalui pengalaman dari lingkungannya.

· Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan intelektual adalah (a) faktor hereditas dan (b) faktor lingkungan, yang meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat.

· Upaya membantu perkembangan intelektual peserta didik: (a) pendidik menerima peserta didik secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat (unconditional positive regard); (b) pendidik menciptakan suasana di mana peserta didik tidak merasa terlalu dinilai oleh orang lain; (c) pendidik memberi­kan pengertian yaitu dapat memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku peserta didik; (d) dapat menempatkan diri dalam situasi peserta didik, serta melihat sesuatu dari sudut pandang mereka (empathy).

­

B. Perkembangan Motorik

· Fisik atau tubuh manusia merupakan system organ yang kompleks dan sangat mengagumkan. Kuhlen dan Tompson (Hurlock, 1956) mengemukakan bahwa perkembangan fisik meliputi empat aspek: (1) system syaraf yang mempengaruhi kecerdasan dan emosi, (2) Otot-otot yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik, (3) Kelenjar endroktrin yang menyebabkan munculnya ringkahlaku baru, dan (4) struktur fisik/tubuh yang meliputi tinggi, berat dan proporsi.

· Otak mempunyai pengaruh yang sangat menentukan bagi perkembangan aspek-aspek perkembangan individu lainnya, baik keterampilan motorik, intelektual, emosional, sosial, moral maupun kepribadian. Pertumbuhan otak yang normal (sehat) berpengaruh positif bagi perkembangan aspek-aspek lainnya.

· Semakin matangnya perkembangan sistem syaraf otak yang mengatur otot memungkinkan berkembangnya kompetensi atau keterampilan motorik anak. Keterampilan motorik ini dibagi dua; jenis, yaitu (a) Keterampilan atau gerakan kasar, seperti berjalan, berlari, melompat, naik dan turun tangga; dan (b) Keterampilan motorik halus atau keterampilan memanipulasi, seperti menulis, menggambar, memotong, melempar, dan menangkap bola, serta memainkan benda-benda atau alat-alat mainan (Audrey Curtis, 1998; Elizabeth Hurlock, 1956).

· Perkembangan keterampilan motorik merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan prtbadi secara keseluruhan, Elizabeth Hurlock (1956) mencatat beberapa alasan tentang fungsi perkembangan motorik bagi konstelasi perkembangan individu, yaitu:

a. Melalui keterampilan motorik anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang dengan memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar, dan menangkap bola atau memainkan alat-alat mainan.

b. Melalui keterampilan, motorik anak dapat beranjak dari kondisi "helplessness" (tidak berdaya) pada bulan-bulan pertama dalam kehidupannya, ke kondisi yang "independence" (bebas, tidak bergantung). Anak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya, dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang perkembangan "self confidence" (rasa percaya diri).

c. Melalui keterampilan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah (school adjustment). Pada usia pra sekolah (taman kanak-kanak) atau usia kelas-kelas awal Sekolah Dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis, dan baris-berbaris.

d. Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayanya, se­dangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan dia akan ter­kucil atau menjadi anak yang “fringer” (terpinggirkan).

e. Perkembangan keterampilan motorik sangat penting bagi per­kembangan "self-concept' atau kepribadian anak.

· Seiring dengan perkembangan motorik ini, bagi anak usia pra sekolah (taman kanak-kanak) atau kelas-kelas rendah SD, tepat sekali diajarkan atau dilatihkan tentang hal-hal berikut: dasar-dasar keterampilan untuk menulis (huruf arab dan latin) dan menggambar, keterampilan berolahraga (seperti senam) atau menggunakan alat-alat olahraga, gerakan-gerakan permainan (seperti meloncat, memanjat, dan berlari), baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan kedisiplinan/ketertiban, dan gerakan-gerakan ibadah salat.


Daftar Bacaan

H. Syamsu Yusuf (2007), Psikologi Perkembangan Anak Remaja, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Mohammad Ali dan Mohammad Asrori (2006), Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Bumi Aksara.

Posting Komentar