Welcome

Selamat datang semoga Anda mendapatkan apa yang Anda cari. Media Pelajar

Translator

Soal Latihan

Kelas VII:
Norma-norma yang berlaku dalam kehidupan, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi Pertama
Perlindungan dan Penegakkan hak Asasi Manusia
Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat
Kelas VIII: Kelas IX:
Contoh soal latihan (sekedar contoh)

Lembar Jawaban

ANALISIS ASPEK PERKEMBANGAN REMAJA (PERKEMBANGAN SOSIAL, EMOSI, DAN MORAL-ETIKA)

Minggu, 17 Januari 2010

A. PERKEMBANGAN SOSIAL REMAJA

1. Hubungan sosial adalah cara-cara individu bereaksi terhadap orang-orang di sekitarnya dan bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap dirinya.

2. Hubungan sosial ini mula-mula dimulai dari lingkungan rumah, kemudian berkembang lebih luas lagi ke lingkungan sekolah, teman sebaya, kemudian dengan teman-temannya di sekolah.

3. Permulaan kerja sama dan konformisme sosial semakin bertambah pada saat anak mencapai usia 7 sampai 10 tahun dan mencapai puncak kurva pada saat anak berada di antara umur 9 sampai 15 tahun. Ini dapat diartikan bahwa konformisme semakin bertambah dengan bertambahnya usia sampai permulaan remaja dan setelah itu mengalami penurunan kembali.

4. Interaksi adalah peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain, atau berkomunikasi satu sama lain.

5. Dilihat dari sudut komunikasi interaksi dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu interaksi verbal, interaksi fisik, dan interaksi emosional.

6. Berdasarkan banyaknya individu yang terlibat dalam proses interaksi serta pola interaksi yang terjadi, interaksi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu interaksi dyadic dan interaksi tryadic.

7. Interaksi antara remaja dengan orang tua dapat digambarkan sebagai drama tiga tindakan (three act drama).

a) Drama tindakan pertama (the first act drama), interaksi remaja dengan orang tua berlangsung sebagaimana yang terjadi pada interaksi antara masa anak-anak dengan orang tua.

b) Drama tindakan kedua (the second act drama), disebut dengan istilah "perjuangan untuk emansipasi".

c) Drama tindakan ketiga (the third act drama), remaja sudah berusaha menempatkan dirinya untuk berteman dengan orang dewasa dan berinteraksi secara lancar dengan mereka.

8. Ada sejumlah karakteristik menonjol dari perkembangan hubungan sosial remaja, yaitu

a) berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan untuk bergaul,

b) adanya upaya memilih nilai-nilai sosial,

c) meningkatnya kcsadaran akan lawan jenis, dan

d) mulai tampak kecenderungan mereka untuk memilih karier tertentu.

9. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan hubungan sosial ada!ah keluarga, sekolah, dan masyarakat.

10. Perbedaan lingkungan dapat menimbulkan perbedaan sikap sosial pada individu. Secara psikologis, sikap ini dapat dipelajari dengun tiga cara, yaitu

a) meniru orang yang lebih berprestasi dalam bidang tertentu,

b) mengombinasikan pengalaman, dan

c) pengalaman khusus dengan emosional yang mendalam.

IMPLI­KASINYA BAGI PENDIDIKAN

· Dalam konteks bimbingan orang tua terhadap remaja, Hoffman (1989) mengemukakan tiga jenis pola asuh orang tua, yaitu

a. pola asuh bina kasih (induction),

b. pola asuh unjuk kuasa (power assertion), dan

c. pola asuh lepas kasih (love withdrawal).

· Dalam konteks pengembangan kepribadian remaja, termasuk di dalamnya pengembangan hubungan sosial, pola asuh yang disarankan oleh Hoffman (1989) untuk diterapkan adalah pola asuh bina kasih (induction). Artinya, setiap keputusan yang diambil oleh orang tua tentang anak remajanya atau setiap perlakuan yang diberikan orang tua terhadap anak remajanya harus senantiasa disertai dengan penjelasan atau alasan yang rasional. Dengan cara demikian, remaja akan dapat mengembangkan pemikirannya untuk kemudian mengambil keputusan mengikuti atau tidak terhadap keputusan atau perlakuan orang tuanya.

· Lingkungan pendidikan berikutnya, setelah keluarga, adalah lingkungan sekolah. Sekolah sebagai lembaga formal yang diserahi tugas untuk menyelenggarakan pendidikan tentunya tidak kecil peranannya dalam membantu perkembangan hubungan sosial remaja. Dalam konteks ini pun, guru juga harus mampu mengembangkan proses pendidikan yang bersifat demokratis. Tugas guru tidak hanya semata-mata mengajar, melainkan juga mendidik. Artinya, selain menyampaikan pelajaran sebagai upaya mentransfer pengetahuan kepada peserta didik, juga harus membina para peserta didik menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab. Dengan demikian, perkembangan hubungan sosial remaja akan dapat berkembang secara maksimal.

· Untuk dapat membantu perkembangan kepribadian peserta didik secara maksimal, termasuk di dalamnya perkembangan hubungan sosial, ada lima kompetensi yang seharusnya dipenuhi oleh seoraug guru, yaitu

1. kompetensi profesional (professional competency),

2. kompetensi pribadi (personal competency),

3. kompetensi moralitas (morality competency),

4. kompetensi religiusitas (religiousity competency), dan

5. kompetensi formal (formal competency).

· Tiga kompetensi, yaitu kompetensi pribadi, moralitas, dan religiusitas merupakan kompetensi yang sangat penting untuk membantu perkembangan hubungan sosial remaja di sekolah.

· Strategi pembelajaran yang demokratis merupakan alternatif yang sangat bermanfaat bagi guru dalam membantu perkembangan hubungan sosial remaja.

· Lingkungan ketiga yang sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan hubungan sosial remaja adalah lingkungan masyarakat. Berkenaan dengan upaya pengembangan hubungan sosial remaja, peran masyarakat justru sangat besar seiring dengan perkembangan psikologis masa remaja. Tugas utama masyarakat adalah menekan seminimal mungkin tingkah laku atau sikap negatif para remaja dan mengembangkan tingkah laku positif, termasuk di dalamnya pengembangan hubungan sosial remaja. Para pemimpin dalam masyarakat, seperti pemimpin organisasi politik, agama, dan organisasi lainnya memikul tugas dan tanggung jawab dalam upaya pengembangan hubungan sosial remaju agar tidak mengarah kepada hubungan sosial yang bersifat negatif dan destruktif.

B. PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA

1. Emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran,perasaan, nafsu serta setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Emosi juga merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Adapun perasaan (feelings) adalah pengalaman yang disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.

2. Ada empat teori yang menjelaskan hubungan antara emosi dengan tingkah laku, yaitu (a) teori sentral, (b) teori peripheral, (c) teori kepribadian, dan (d) teori kedaruratan emosi (emotion emergency theory). Berdasarkan teori di atas, Ali dan Asrori (2006) berpendapat bahwa perbuatan atau tingkah laku seseorang merupakan akibat dari emosi yang dialami orang tersebut, bukan sebaliknya. Sebagaimana dicontohkan di atas, seseorang bukan susah karena menangis, melainkan seseorang menangis karena susah. Hubungannya dengan motivasi adalah karena termotivasi, seseorang kemudian mengalami emosi yang pada akhirnya berbuat sesuatu atau bertingkah laku tertentu.

3. Karakteristik perkembangan emosi remaja sejalan dengan perkembangan masa remaja itu sendiri, yaitu sebagai berikut.

a. Perubahan fisik tahap awal pada periode praremaja disertai sifat kepekaan terhadap rangsangan dari luar menyebabkan respons berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang atau bahkan meledak-ledak.

b. Perubahan fisik yang semakin jelas pada periode remaja awal me­nyebabkan mereka cenderung menyendiri sehingga tidak jarang merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau mempedulikannya.

c. Periode remaja sudah semakin menyadari pentingnya nilai-nilai yang dapat dipegang teguh sehingga jika melihat fenomena yang terjadi di masyarakat yang menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui menyebabkan remaja seringkali secara emosional ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik, dan pantas untuk dikembangkan di kalangan mereka sendiri. Lebih-lebih jika orang tua atau orang dewasa di sekitarnya ingin memaksakan nilai­-nilainya.

d. Periode remaja akhir mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga menjadi semakin lebih bagus dan lancar karena mereka sudah semakin bebas penuh serta emosinya pun mulai stabil.

4. Ada lima faktor yang memengaruhi perkembangan emosi remaja, yaitu (a) perubahan jasmani, (b) perubahan pola interaksi dengan orang tua, (c) perubahan interaksi dengan teman sebaya, (d) perubahan pandangan luar, dan (e) perubahan interaksi dengan sekolah.

5. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan emosi remaja agar berkembang ke arah kecerdasan emosional antara lain dengan belajar mengembangkan: (a) keterampilan emosional, (b) keterampilan kognitif, dan (c) keterampilan perilaku.

IMPLI­KASINYA BAGI PENDIDIKAN

Intervensi pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat mengembangkan kecerdasan emosional, salah satu di antaranya adalah dengan menggunakan intervensi yang dikemukakan oleh W.T. Grant Consortium tentang "Unsur-Unsur Aktif Program Pencegahan", yaitu sebagai berikut.

1. Pengembangan Keterampilan Emosional

Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan emosional individu adalah: (a) mengidentifikasi dan memberi nama atau label perasaan, (b) mengungkapkan perasaan, (c) menilai intensitas perasaan, (d) mengelola perasaan, (e) menunda pemuasan, (f) mengendalikan dorongan hati, (g) mengurangi stres, dan(h) memahami perbedaan antara perasaan dan tindakan.

2. Pengembangan Keterampilan Kognitif

Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan kognitif individu adalah sebagai berikut.

a. Belajar melakukan dialog batin sebagai cara untuk menghadapi dan mengatasi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri.

b. Belajar membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial, misalnya mengenali pengaruh sosial terhadap perilaku dan melihat diri sendiri dalam perspektif masyarakat yang lebih luas.

c. Belajar menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, misalnya mengendalikan dorongan hati, menentukan sasaran, mengidentifikasi tindakan-tindakan alternatif, dan memperhitungkan akibat-­akibat yang mungkin timbul.

d. Belajar memahami sudut pandang orang lain (empati).

e. Belajar memahami sopan santun, yaitu perilaku mana yang dapat diterima dan mana yang tidak.

f. Belajar bersikap positif terhadap kehidupan.

g. Belajar mengembangkan kesadaran diri, misalnyamengembangkan harapan­-harapan yang realistis tentang diri sendiri.

3. Pengembangan Keterampilan Perilaku

Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kcterampilan perilaku indi­vidu adalah sebagai bcrikut.

a. Mempelajari keterampilan komunikasi nonverbal, misalnya berkomunikasi melalui pandangan mata, ekspresi wajah, gerak-gerik, posisi tubuh, dan sejenisnya.

b. Mempelajari keterampilan komunikusi verbal, misalnya mengajukan permintaan dengan jelas, mcndeskripsikan sesuatu kepada orang lain dengan jelas, menang­gapi kritik secara efektif, menolak pengaruh negatif, mendengarkan orang lain, dan ikut serta dalam kelompok-kelompok kegiatan positif yang banyak menggunakan komunikasi verbal.

Cara lain yang dapat digunakan sebagai intervensi edukatif untuk mengem­bangkan emosi remaja agar dapat memiliki kecerdasan emosional adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang di dalamnya terdapat materi yang dikembangkan oleh Daniel Goleman (1995) yang kemudian diberi nama Self Science Curriculum, sebagaimana dipaparkan berikut ini: Belajar mengembangkan kesadaran diri; Belajar mengambil keputusan pribadi; Belajar mengelola perasaan; Belajar menangani stress; belajar berempati; Belajar berkomunikasi; Belajar membuka diri; Belajar mengembangkan pemahaman; Belajar menerima diri sendiri; Belajar mengembangkan tanggung jawab pribadi; Belajar mengembangkan ketegasan; Mempelajari dinamika kelompok; dan Belajar menyelesaikan konflik.

C. PERKEMBANGAN NILAI, MORAL, DAN SIKAP

1. Nilai adalah suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu.

2. Ada enam nilai yang dikenal secara luas, yaitu (a) nilai teori atau nilai keilmuan, (b) nilai ekonomi, (c) nilai sosial atau nilai solidaritas, (d) nilai agama, (e) nilai seni, dan (f) nilai politik atau nilai kuasa.

3. Moral berasal dari kata Latin mores yang artinya tata cxra dalam kehidupan, adat istiadat, atau kebiasaan. Moral pada dasarnya merupakan rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang hams dipatuhi.

4. John Dewey yang kemudian dijabarkan oleh Jean Piaget mengemukakan tiga tahap perkembangan moral (a) tahap pramoral, (b) tahap konvensionttl, dan (c) tahap otonom.

5. Lawrence E. Kohlberg mengemukakan tingkatan dan tahap-lahap perkembangan moral, yaitu sebagai berikut.

a. Tingkat prakonvensional, memiliki dua tahap, yaitu

Tahap 1: orientasi hukuman dan kepatuhan, dan

Tahap 2:orientasi relativis-instrumental.

b. Tingkat konvensional, memiliki dua tahap, yaitu

Tahap3: orientasi kesepakatan antara pribadi atau disebut orientasi "Anak Manis", dan

Tahap4: orientasi hukum dan ketertiban.

c. Tingkat pascakonvensional, memiliki dua tahap, yaitu

Tahap 5: orientasi kontrak sosial legalitas, dan

Tahap 6: orientasi prinsip etikn universal.

6. Sikap adalah predisposisi atau kecenderungan yang relatif stabil dan berlangsung terus-menerus untuk bertingkah laku atau bereaksi dengan suatu cara tertentu terhadap orang lain, objek,lembaga, atau persoalan tertentu.

7. Ada tiga teori determinisme yang diterima secara luas, baik sendiri-sendiri maupun kombinasi, untuk menjelaskan sikap manusia, yaitu (a) determinisme genetis (genetic determinism), (b) determinisme psikis (psychic determinism), dan (c) determinisme lingkungan (environmental determinism).

8. Sejalan dengan tahapan perkembangan yang dicapai, remaja menunjukkan karakteristik individual perkembangan nilai, moral clan sikap yang khas, yakni berusaha menemukan sendiri atau bahkan membentuk sendiri nilai, moral, dan sikap di kalangan mereka.

9. Salah satu pendidikan moral yang dapat ditempuh adalah menggunakan model yang disebut dengan “pengembangan konflik-kognitif”.

IMPLI­KASINYA BAGI PENDIDIKAN

Suatu sistem sosial yang paling awal berusaha menumbuhkembangkan sistem nilai, moral, dan sikap kepada anak adalah keluarga. Ini didorong oleh keinginan dan harapan orang tua yang cukup kuat agar anaknya tumbuh dan berkembang menjadi individu yang memiliki dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, mampu membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta memiliki sikap dan perilaku yang terpuji.

Upaya pengembangan nilai, moral, dan sikap juga diharapkan dapat dikem­bangkan secara efektif di lingkungan sekolah. Akhir-akhir ini, karena semakin maraknya perilaku remaja yang kurang menjunjung tinggi nilai-nilai, moral, dan sikap positif maka diberlakukan lagi pendidikan budi pekerti di sekolah. Penentuan kelulusan siswa, tidak hanya didasarkan pada prestasi akademik belaka melainkan harus dikaitkan dengan budi pekerti siswa tersebut. Suatu kelemahan dalam sistem pendidikan kini adalah kita jarang atau hampir tidak pernah merumuskan nilui-nilai inti (core values) dan fundamental secara rinci dan jelas yang kemudian dijadikan landasan bagi semua praktik pendidikan.

Serangkaian penelitian menarik yang dilakukan oleh Blatt dan Kohlberg (1995) menunjukkan bahwa upaya pedagogis yang lebih terbatas untuk merangsang proses perkembangan moral dapat juga memiliki dampak yang berarti pada anak. Praktiknya adalah membentuk kelompok yang masing-masing beranggotakan 10 orang siswa, bertemu dua kali dalam seminggu selama tiga bulan untuk membahas berbagai dilema moral. Kebanyakan siswa dalam kelas perkembangan moralnya ternyata mengalami kemajuan hampir satu tahap penuh. Suatu perubahan substansial untuk kurun waktu sependek itu. Apalagi, para siswa yang telah mengalami kemajuan setelah 12 minggu tetap menunjukkan kemajuan itu setahun kemudian ketimbang kelompok siswa yang tidak pernah memiliki pengalaman diskusi dilema moral.

Prosedur diskusi moral yang digunakan oleh Blatt berbeda dengan yang umumnya dilakukan oleh para guru. Prosedur diskusi moralnya menggunakan apa yang disebut dengan istilah "induksi konflik-kognitif” (cognitive-conflict induction) mengenai masalah-masalah moral dan memberikan keterbukaan terhadap tahap berpikir yang sebenarnya berada di atas tahap berpikir siswa,

Implikasi bagi pendidikan dari hasil penelitian Blatt adalah bahwa guru harus serius membantu para siswa mempertimbangkan berbagai konflik moral yang sesungguhnya, memikirkan cara pertimbangan yang digunakan dalam menyelesai­kan konflik moral, melihat ketidakkonsistenan cara berpikir, dan menemukan jalan untuk mengatasinya. Untuk dapat melaksanakannya, guru harus memahami tingkatan berpikir siswa dan menyesuaikannya dalam berkomunikasi dengan tingkat di atasnya, memusatkan perhatian pada proses bernalar siswa, serta membantu siswa mengatasi konflik yang dapat mengantarkannya kepada kesadaran bahwa pada tahap berikutnya akan lebih memadai.

Selain diskusi ruang kelas tentang dilema moral, Kohlberg (1995) juga menyarankan agar diperluas ke dalam diskusi tentang kehidupan nyata.

Selanjutnya, Kohlberg (1995) memberikan ilustrasi tentang penerapan prinsip utama dari rangsangan yang berkenaan dengan lingkungan terhadap proses perkembangan moral. Prinsip utama adalah konsepsi mengenai peningkatan kesempatan partisipasi dan pengambilan peran sosial.

Daftar Bacaan

H. Syamsu Yusuf (2007), Psikologi Perkembangan Anak Remaja, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Mohammad Ali dan Mohammad Asrori (2006), Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Bumi Aksara.

Posting Komentar