Minggu, 17 Januari 2010
Sesuai dengan konsep-konsep yang mendasarinya serta aspek dan karakteristik perkembangan yang diutamakan, para ahli mengemukakan pembagian fase atau tahap perkembangan yang tidak selalu sama.
Pembagian tahap perkembangan yang paling tua, dikemukakan oleh Aristoteles yang membagi masa perkembangan ini atas tiga tahap, yaitu: masa kanak-kanak (0 - 7 tahun), masa anak (7 - 14 tahun), masa remaja (14- 21 tahun) setelah itu adalah masa dewasa.
Jean Jacques Rousseau membaginya dalam empat tahap perkembangan, yaitu: masa bayi (0 - 2 tahun) anak hidup sebagai binatang, masa kanak-kanak (2 - 12 tahun) anak hidup sebagai manusia biadab, masa remaja awal (12 - 15 tahun) anak hidup sebagai petualang: perkembangan intelek dan pertimbangan, dan masa remaja yang sesungguhnya (15 - 24 tahun) individu hidup sebagai manusia beradab: pertumbuhan kelamin, sosial dan katahati.
Stanley Hall juga membagi perkembangan anak ini atas empat tahap, yaitu: masa kanak-kanak (0 - 4 tahun) sebagai binatang melata dan berjalan, masa anak (4 - 8 tahun) sebagai manusia pemburu, masa puber atau remaja awal (8 - 12 tahun) sebagai manusia biadab/liar, dan masa adolesen atau remaja sesungguhnya (12/13 sampai dewasa) dimulai dengan masa gejolak perasaan, konflik nilai dan berakhir sebagai manusia berperadaban modern.
Sigmund Freud seorang ahli psikologi Jerman, beraliran Psikoanalisis mengemukakan tahap-tahap perkembangan individu berdasarkan perkembangan seksualnya. Menurut Freud perkembangan seksual telah dimulai pada masa bayi yang disebutnya sebagai tahap oral (oral stage) usia 0 - 2 tahun. Pada masa ini bayi telah merasakan adanya rasa senang kalau ada rangsangan benda, makanan dsb pada mulut. Tahap berikutnya adalah masa anal (anal stage) usia 2 - 4 tahun, bayi merasakan kesenangan kalau buang air besar, karena ada sesuatu rangsangan pada dubur (anal). Masa falik (phalic stage) merupakan tahap berikutnya yaitu usia 4 - 6 tahun, anak merasakan kesenangan bila ada rangsangan atau sentuhan pada kelaminnya. Masa latensi (latency stage)usia 6 - 12 tahun, dorongan seksualnya tidak nampak sebab tersembunyi dalam berbagai aktivitas dan hubungan sosial. Masa genital (genital stage) usia 12 tahun sampai dewasa, merupakan masa kematangan kehidupan seksual. Individu pada akhir masa ini telah siap untuk melahirkan keturunan dan melaksanakan fungsi-fungsi sebagai ayah dan ibu.
Erikson mengemukakan tahap-tahap perkembangan kepribadian anak yang lebih bersifat menyeluruh. Ia membagi seluruh masa perkembangan atas tahap bayi usia 0 - 1 tahun yang ditandai oleh kepercayaan-ketidakpercayaan terutama kepada orang tuanya (trust - mistrust); tahap kanak-kanak usia 1 - 3 tahun ditandai oleh adanya otonomi di satu pihak dan rasa malu di lain pihak (autonomy - shame); tahap prasekolah usia 3 - 6 tahun ditandai oleh inisiatif dan rasa bersalah (initiative - guilt); tahap anak sekolah usia 6 - 12 tahun ditandai oleh kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan rasa rendah diri (industry - inferiority); tahap remaja usia 12 - 18 tahun ditandai oleh integritas diri dan kebingunan (identity - identity confusion).
Jean Piaget seorang ahli Psikologi berkembangsaan Perancis, berdasarkan penelitiannya yang cukup lama tentang perkembangan kognitif atau kemampuan berpikir pada anak menyimpulkan, lima tahap perkembangan kognitif, yaitu: tahap sensori motor (sensorymotor stage) usia 0 - 2 tahun, pada masa ini bayi bisa membedakan dan mengetahui nama-nama benda; tahap pra-operasional (preoperasional stage) usia 2 - 7 tahun. Tahap ini terbagi lagi atas tahap prakonseptual (preconceptual stage) usia 2 - 4 tahun masa awal perkembangan bahasa dengan pemikiran yang sederhana, dan tahap pemikiran intuitif (intuitive thought) usia 4 - 7 tahun, merupakan masa berpikir khayal. Pada tahap praoperasional ini anak belum mampu berpikir abstrak, jangkauan waktu dan tempatnya masih pendek. Tahap selanjutnya adalah masa operasi konkrit (concrete operational) usia 7 - 11 tahun, kemampuan berpikir anak telah lebih tinggi, tetapi masih terbatas kepada hal-hal yang konkrit, ia sudah menguasai operasi-operasi hitungan seperti menambah, mengurangi, melipat, membagi, menyusun, mengurutkan dll. Tahap selanjutnya adalah operasi formal (formal operational) usia 11 tahun ke atas. Pada tahap ini kemampuan berpikir anak telah sempurna, ia telah dapat berpikir abstrak, berpikir deduktif dan induktif, berpikir analitis dan sintesis.
Lawrence Kohlberg berdasarkan penelitiannya selama kurang lebih lima tahun, menyimpulkan adanya tiga tingkat perkembangan moral. Masing-masing tingkat terbagi lagi atas dua tahap sehingga seluruhnya ada enam tahap. Tahap-tahap perkembangan moral ini dapat dilihat pada bagan berikut.

5. Perjanjian masyarakat
Pasca Konvensi
![]()
3. Agar dinilai baik atau mendapat pujian
Konvensi
![]()
1. Menghindari hukuman dan mendapatkan ganjaran
Pra Konvensi
BAGAN: Tahap-tahap perkembangan moral dari Lawrence Kohlberg
Kohlberg sebenarnya tidak memberikan pembagian jenjang waktu, tetapi beberapa ahli lain mencoba menghubungkannya dengan tahapan-tahapan waktu perkembangan, seperti menurut Donald B. Helm dan Jeffrey S. Turner, tahap menghindari hukuman dan mencari rasa senang berkembang pada masa bayi dan kanak-kanak. Tahap berbuat baik hanya sebagai alat memenuhi kebutuhan berkembang pada masa anak kecil, tahap berbuat baik hanya agar dikenal dan dipuji serta tahap berbuat balk karena patuh akan peraturan berkembang pada masa anak. Dua tahapan yang tertinggi, yaitu berbuat baik karena telah merupakan persetujuan masyarakat dan tahap berbuat baik karena timbul dari hati nurani berkembang pada masa remaja dan dewasa. Helms dan Turner memberikan urutan lengkap dari perkemba.ngan individu, yaitu masa: pranatal atau sebelum lahir dari masa konsepsi sampai lahir, bayi 0 - 2 tahun, kanak-kanak 2 - 3/4 tahun, anak kecil 3/4 - 5/6 tahun, anak 6 - 12 tahun, remaja 12 - 19 tahun, dewasa muda 19 - 30 tahun, dewasa 30 - 65 tahun dan usia lanjut 65 ke atas.
Daftar Bacaan
Mohammad Ali dan Mohammad Asrori (2006), Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Bumi Aksara.
Nana Syaodih S. (2005), Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.








Posting Komentar